Mental Health, Penting ‘Kah?
Zaman sekarang, masyarakat sudah tidak terlalu awam dan mulai cukup aware dengan Mental Health. Tapi mungkin beberapa dari kalian ada yang belum tahu, apa sih mental health itu? Mental health dalam Bahasa Indonesia berarti kesehatan mental, yang dimana menyangkut tentang kondisi mental atau batin kita. Kesehatan mental setiap orang pun berbeda-beda, ada yang kondisi mentalnya stabil, ada yang kondisinya tidak stabil. Mereka yang kondisi mentalnya stabil biasanya didukung oleh lingkungan yang baik dan suportif. Sementara mereka yang kondisi mentalnya tidak stabil mengalami sebaliknya.
Kesehatan mental dipengaruhi oleh peristiwa dalam kehidupan yang meninggalkan dampak yang besar pada kepribadian dan perilaku seseorang. Peristiwa-peristiwa tersebut dapat berupa kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan anak, atau stres berat jangka panjang.
Jika kesehatan mental terganggu, maka timbul gangguan mental atau penyakit mental. Gangguan mental dapat mengubah cara seseorang dalam menangani stres, berhubungan dengan orang lain, membuat pilihan, memicu hasrat untuk menyakiti diri sendiri, bahkan mengakhiri hidupnya.
Remaja zaman sekarang atau kerap disebut generasi Z, sebagian besar juga mengalami kesehatan mental yang kurang baik. Alasannya pun bermacam-macam selain dari yang saya sebutkan di atas, bisa karena perundungan, keluarga yang berantakan, kurangnya mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang terdekat, lingkungan yang toxic, dan masih banyak lagi.
Keadaan tersebut cenderung menyebabkan si penderita mengalami gangguan mental atau, seperti gangguan kecemasan, depresi, bahkan gangguan mental yang lebih kritis seperti gangguan stres pasca trauma (PTSD), gangguan obsesif kompulsif (OCD), dan psikosis.
Beberapa ciri-ciri seorang remaja mengalami gangguan mental, yaitu:
Kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi.
Ketakutan, kekhawatiran, atau perasaan bersalah yang selalu menghantui.
Ketidakmampuan untuk mengatasi stres atau masalah sehari-hari.
Memiliki pengalaman dan kenangan buruk yang tidak dapat dilupakan.
Memiliki pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau orang lain.
Menarik diri dari orang-orang dan kegiatan sehari-hari.
Mengalami perubahan suasana hati drastis yang menyebabkan masalah dalam hubungan dengan orang lain.
Merasa bingung, pelupa, marah, tersinggung, cemas, kesal, khawatir, dan takut yang tidak biasa.
Merasa sedih, tidak berarti, tidak berdaya, putus asa, atau tanpa harapan.
Perubahan drastis dalam kebiasaan makan, seperti makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.
Tidak mampu memahami situasi dan orang-orang.
Orang yang mengalami gangguan mental sangat disarankan untuk menemui seorang professional yang ahli di bidangnya, yaitu psikolog dan psikiater. Dokter ahli jiwa atau psikiater akan mendiagnosis suatu gangguan mental dengan diawali suatu wawancara medis dan wawancara psikiatri lengkap mengenai riwayat perjalanan gejala pada pengidap serta riwayat penyakit pada keluarga pengidap. Kemudian, dilanjutkan dengan pemeriksaan fisik yang menyeluruh untuk mengeliminasi kemungkinan adanya penyakit lain. Jika diperlukan, dokter akan meminta untuk dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan fungsi tiroid, skrining alkohol dan obat-obatan, serta CT scan untuk mengetahui adanya kelainan pada otak pengidap. Jika kemungkinan adanya penyakit lain sudah dieliminasi, dokter akan memberikan obat dan rencana terapi untuk membantu mengelola emosi pengidap.
Namun, jika dirasa tidak perlu, kita juga bisa melakukan beberapa upaya untuk mencegah gangguan mental, seperti:
Melakukan aktivitas fisik dan tetap aktif secara fisik.
Membantu orang lain dengan tulus.
Memelihara pikiran yang positif.
Memiliki kemampuan untuk mengatasi masalah.
Mencari bantuan profesional jika diperlukan.
Menjaga hubungan baik dengan orang lain.
Menjaga kecukupan tidur dan istirahat.
Tak jarang orang yang mengalami gangguan mental enggan untuk terbuka perihal kondisinya karena stigma buruk yang terbentuk di masyarakat. Mereka dicap tidak normal, bermasalah, bahkan gila. Padahal kenyataannya mereka tidak begitu. Tidak ada penderita gangguan mental yang menginginkan penyakit mereka. Mereka ingin sembuh. Maka dari itu, apabila ada orang terdekat kita yang mengalami gangguan atau penyakit mental, alangkah baiknya kita menjadi suportif terhadap keadaannya. Bantu ia untuk bangkit, ingatkan dia bahwa kita ada untuknya dengan menjadi pendengar yang baik. Jangan menyalahkan mereka atas keadaannya, Mereka butuh bantuanmu untuk pulih. Selalu berikan energi positif dan buat mereka nyaman di sekitamu. Tapi, tetap diingat bahwa gangguan mental membutuhkan bantuan langsung dari ahlinya agar mendapat perawatan yang tepat.
Yuk, mulai lebih aware terhadap sesama! Yang terpenting adalah mengurangi stigma buruk dan mendukung mereka agar tidak menderita dalam kesunyian. Always remember that with help, there is hope.
Komentar
Posting Komentar